Kembalikan Birunya Lautku, Laut Indonesia
.....Berbagilah pada dunia, buka mata hati untuk berbagi.....
Mungkin penggalan lirik lagu yang berjudul “Berbagilah Pada Dunia” di atas sudah tidak asing lagi di telinga kita, lagu ini merupakan suatu ungkapan dan ajakan kepada masyarakat luas, untuk mulai sadar dan perduli akan keadaan bumi kita. Karena menurut laporan Intergovermental Panel on Climate Change(IPCC) suhu rata-rata permukaan bumi saat ini meningkat sekitar 0.6OC yang menyebabkan bumi kita memanas.
Hal tersebut tidak lain disebabkan oleh peningkatan suhu bumi yang lebih dikenal dengan istilah global warming mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat dunia. Isu pemasan global yang menyeruak ke permukaan sejak abad ke-20 ini sangatlah mengkhawatirkan seluruh penduduk bumi. Bagaimana tidak? peningkatan suhu permukaan bumi dapat merusak seluruh kehidupan mahluk hidup yang ada di bumi. Dan peningkatan suhu bumi diprediksikan akan terus mengalami peningkatan. Hal ini tidak saja hanya menaikkan suhu permukaan bumi dan juga menyebabkan mencairnya es di kutub utara, namun dampak yang sangat krusial adalah kondisi iklim di bumi yang berubah-ubah. Hal itu dikarenakan bertambah panasnya suhu udara di bumi, kemudian arus angin dan laut memindahkan panas ini ke segala penjuru bumi. Pergerakan tersebut mendinginkan beberapa wilayah, memanaskan beberapa wilayah lainnya, dan mengubah jumlah curah hujan dan salju yang turun ke beberapa tempat. Sebagai akibatnya, terjadilah perubahan pola iklim global(Anonim,2009).
Dalam laporan terbaru, Fourh Assessment Report, yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), terungkap bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat bumi semakin panas, diantaranya pembangkit listrik(25,9%), sektor industri (19,4%), pertanian(13,5%), transportasi(13,1%), hunian dan bangunan komersial(7,9%), dan sampah(3,6%)(Anonim,2009). Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida(CO2) beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm. Hal tersebut semakin krusial dengan adanya penebangan hutan secara liar (illegal logging) dimana hutan sebagai paru-paru dunia yang dapat merubah karbon dioksida(CO2) menjadi Oksigen(O2) tidak mampu lagi bekerja secara optimal, karena ketimpangan jumlah hutan yang ada dengan jumlah karbon dioksida yang dihasilkan.
Tidak hanya manusia dan mahluk darat yang mengalami kerugian akibat perubahan iklim ini, namun juga biota-biota laut juga mendapat imbas negatif dari pemanasan global ini, salah satunya adalah terumbu karang. Terumbu karang merupakan salah satu contoh biota laut yang mendapat imbas dari perubahan suhu laut yang meningkat secara signifikan. Padahal, terumbu karang merupakan biota laut yang mampu membentuk ekosistem laut, dimana tempat ikan-ikan beristirahat dan mencari makanan. Namun, di lain sisi terumbu karang yang tumbuh optimal pada kisaran suhu 26C-29C (Coremap, 2008) mempunyai sensivitas yang tinggi terhadap perubahan suhu sekitar. Tentunya, peningkatan suhu laut akibat pemanasan global memberikan dampak yang krusial terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang. Dalam hal ini memutihnya terumbu karang (coral bleaching) merupakan salah satu imbas daripada pemanasan global (global warming). Dan diperkirakan hampir 18% terumbu karang di kawasan Asia Tenggara telah rusak dan hancur(Lauretta,et.al.2002).
Krusialnya dampak pemanasan global terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang, yang notabennya berfungsi sebagai produsen O2 di dalam air laut. Oleh karena itu perlu diadakannya suatu perbaikan atau revitalisasi ekosistem terumbu karang. Memburuknya keadaan terumbu karang di perairan Indonesia, khususnya di Pulau Bali. Dimana Pulau Bali dikenal akan keindahan objek wisatanya tidak hanya di darat namun juga keindahan wisata baharinya.
Menggugah hati para nelayan-nelayan pesisir di Desa Serangan untuk ikut serta dalam pelestarian ekosistem terumbu karang yang makin rusak. Kelompok nelayan pesisir yang dibentuk pada tahun 2003 ini, melakukan revitalisasi terumbu karang dengan dua teknik yaitu transplantasi dan restorasi yang dilakukan di daerah konservasi (DPL). Metode transplantasi menurut Patut salah seorang anggota nelayan pesisir adalah penempelan bibit terumbu karang pada substrat buatan, sedangkan metode restorasi merupakan penempelan karang hidup pada karang yang sudah mati. Menurut Patut, dengan metode ini terumbu karang dapat tumbuh lima sampai sepuluh kali lebih cepat dari seharusnya, atau sekitar 1 cm per bulannya. Hingga kini, lahan penanaman terumbu karang di laut Serangan sudah mencapai luas 1 hektar dengan 20.000 pieces terumbu karang. Kebun karang buatan yang berada di kedalaman 4–12 meter itu kini sudah menjadi rumah bagi 40 spesies ikan.
Dengan adanya kegiatan pengelolaan dan revitalisasi terumbu karang yang berbasis sosio-kultural-religius masyarakat pesisir yang dilakukan oleh para nelayan pesisir ini diharapkan dapat menjadi suatu awal yang baik dan tentunya dapat terus dikembangkan oleh masyarakat pesisir di wilayah lain. Yang nantinya estotika wisata bahari Indonesia dapat terus terjaga dan hal ini juga dapat mengurangi efikasi pemanasan global di laut.
Kamis, 03 Juni 2010
Kembalikan Birunya Lautku, Laut Indonesia
Diposting oleh Surya Darmayantii di 08.22 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
